Monday, February 15, 2010

Relaks Kejap - Jangan Tension - Bergurau aje

SIAPA HEBAT
Man : Bapa aku hebat.
Dia polis. Semua orang takut ngan dia.
Ali : Eleh, bapa aku lagi terer. Kalau dia suruh orang tunduk, mesti orang tu tunduk.
Man : Wow! Bapa kau keja apa?
Ali : Tukang gunting rambut.

KELAS BI
Ayah : Apasal B.I kamu nie asyik dapat kosong jer...! Apasal hah?
Anak : Eh, ayah! Tu bukan kosong. Tadi cikgu adik dah kasi bintang banyak kat bebudak lain. Ada dapat 5 bintang la, 4 bintang la.
Bila turn adik jer, bintang dah abis. Sebab tu cikgu bagi kat adik bulan.

SUDU
Doktor : Encik kena ambil 3 sudu ubat ni setiap hari.
Pesakit : Eh! tak boleh la doktor.
Doktor : Kenapa?
Pesakit : Rumah saya ada dua sudu jer.

MAYAT

Cikgu : Hasan,sambungkan 2 ayat ini menjadi satu. 'Ali menaiki
basikal ke sekolah. Ali ternampak mayat.'
Hasan : Ali ternampak mayat menaiki basikal ke sekolah.

TIRU
Cikgu : Encik, anak awak didapati meniru Ali dalam exam.
Bapa : Apa bukti awak?
Cikgu : Encik tengok soalan nombor 4 nie. Siapakah menemui Pulau Pinang? Seman tulis "Saya tak tahu"dan anak encik tulis "Kalau engkau tak tahu, aku lagi la tak tahu".

DOKTOR

Suatu petang datang seorang lelaki berumur ke kelinik ENT , kerana telinganya dimasuki biji kacang hijau semasa dia membeli barang dapur di pasar.
Doktor : "Selamat petang..."
Pesakit : "Selamat petang Doktor!"
Doktor : " Ada masaalah apa .....?"
Pesakit : "Telinga saya dimasuki biji kacang hijau, Doktor..."
Doktor : "Biar saya periksa telinga anda!"
setelah diperiksa... .
Doktor : " Ada2 cara untuk mengeluarkan biji tersebut..."
Pesakit : "Apa caranya doktor?"
Doktor : "Pembedahan kecil kosnya 2 ribu ringgit dan pilihan kedua
pula percuma..."
Pesakit : "Mahal sangat Doktor, kalau yang percuma bagaimana?"
Doktor : "Yang percuma kena sabar..."
Pesakit : "Baik, saya sabar, dan bagaimana caranya...?"
Doktor : "Anda sirami telinga anda 2 kali sehari dan nanti jika
sudah jadi tauge' anda tinggal tarik keluar."
Pesakit : "Huh

p/s
Mulakan hari dengan senyuman, kerana senyuman adalah ubat.
Jangan tension2.

Baca Selanjutnya...

Saturday, February 13, 2010

Friday, February 12, 2010

JANGAN MALU MENGATAKAN "Aku Tidak Tahu".

Salam teman-teman,

ALlah subhanahu wata'ala mencela orang-orang yang berkata tentang sesuatu dengan tanpa ilmu, Dia mencela mereka di dalam Kitab-Nya yang Agung dan melalui lisan rasul-Nya yang mulia. Ini disebabkan karena ucapan tanpa ilmu adalah menyesatkan bukan memberi petunjuk, merusak bukannya membangun. Sedangkan ucapan seseorang "Aku tidak tahu" dalam suatu hal yang tidak dia ketahui maka ini bukanlah aib, bukan cela dalam ilmunya mahupun dalam kemampuannya, bahkan merupakan cerminan kesempurnaan pengetahuannya.

Ketika Allah subhanahu wata'ala bertanya kepada para Rasul tentang ummatnya sepeninggal mereka, yakni tatkala mereka dikumpulkan pada hari Kiamat maka para rasul menjawab, "tidak tahu." Allah subhanahu wata'ala berfirman, artinya,
"(Ingatlah), hari diwaktu Allah mengumpulkan para rasul, lalu Allah bertanya (kepada mereka), "Apa jawaban kaummu terhadap (seruan)-mu". Para rasul menjawab, "Tidak ada pengetahuan kami (tentang itu); sesungguhnya Engkaulah yang mengetahui perkara yang ghaib". (QS. Al-Maaidah:109)

Demikian para rasul ketika Allah subhanahu wata'ala bertanya tentang ummatnya, "Apa jawaban ummatmu terhadap seruanmu?" Maka mereka menjawab, "Kami tidak mempunyai pengetahuan tentang itu," pengetahuan tentang itu hanya ada pada-Mu wahai Rabb kami, Engkau lebih mengetahui daripada kami, sebab Engkaulah yang mengetahui perkara ghaib, yaitu Engkau
mengetahui segala sesuatu yang ghaib dan yang tampak." (Tafsir Al-Karim Ar-Rahman, Syaikh Abdur Rahman bin Nashir as-Sa'di, 2/36)

Ketika Allah subhanahu wata'ala bertanya kepada para malaikat tentang nama-nama benda yang ada di bumi, maka para malaikat menjawab sebagaimana firman-Nya, artinya,
Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman, "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika memang kamu orang yang benar!" Mereka menjawab, "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS. Al-Baqarah:31-32)

Para malaikat tidak malu untuk menyerahkan perkara yang tidak mereka ketahui kepada yang mengetahuinya yakni Allah subhanahu wata'ala.

Ilmu merupakan lautan yang tidak bertepi, dan tidak ada yang dapat meliputinya kecuali Dzat yang Maha Meliputi segala sesuatu dengan ilmu, Allah Yang Maha Agung.

Adapun manusia, maka seluruh manusia hanya mempunyai perbekalan sedikit dari ilmu, sebagaimana firman Allah subhanahu wata'ala, artinya, "Dan tiadalah kalian diberikan ilmu kecuali hanya sedikit." (QS. Al-Israa': 85).

Jika demikian, maka bukan hal yang memalukan dan bukan merupakan
aib jika seorang guru, ustadz atau siapa saja mengatakan tidak tahu terhadap apa yang tidak dia ketahui.

Al-Mawardi rahimahullah dalam Adabu ad-Dunya wa ad-Diin hal 123 mengatakan, "Jika seseorang tidak dapat menguasai sesuatu dengan ilmu maka bukan merupakan cela jika dia bodoh dalam sebagiannya. Dan jika bodoh dalam sebagian perkara bukan suatu aib maka bukan merupakan keburukan jika seseorang mengatakan "Aku tidak tahu" dalam hal yang tidak ia ketahui."

Bahkan merupakan keburukan yang sangat besar jika seseorang melakukan penipuan terhadap orang lain dengan ucapan yang salah dan ngawur. Para siswa atau pun masyarakat pada umumnya jika mendapati seorang pengajar atau ustadz yang memberikan jawaban salah (ngawur) hanya semata-mata agar bebas dari satu kasus tertentu, maka suatu saat kebohongannya pasti akan tersingkap baik dalam waktu dekat atau lambat. Dan yang terjadi
setelah itu adalah para siswa atau orang-orang akan kehilangan kepercayaan terhadap setiap pengajaran dan informasi yang dia sampaikan.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sendiri ketika beliau ditanyai sesuatu lalu beliau tidak mengetahui jawabannya, maka beliau mengatakan, "Aku tidak tahu," sehingga turun wahyu kepada beliau tentang hal tersebut.

Suatu ketika ada seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, lalu bertanya, "Wahai Rasulullah tempat manakah yang paling baik? Maka beliau menjawab, "Aku tidak tahu." Lalu orang tersebut bertanya lagi, "Tempat manakah yang paling buruk?" Maka Rasulullah menjawab, "Aku tidak tahu." Orang tersebut lalu berkata, "Tanyakanlah kepada Rabbmu." Maka datanglah Jibril 'alaihissaalam kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, lalu beliau berkata, "Wahai Jibril tempat manakah yang paling baik? Jibril menjawab, "Aku tidak tahu." Lalu Nabi bertanya lagi, "Tempat manakah yang paling buruk?" Maka Jibril menjawab, "Aku tidak tahu."

Demikianlah, hingga akhirnya Jibril 'alaihissaalam bertanya kepada Allah subhanahu wata'ala, sehingga diberitahukan bahwa tempat yang paling baik adalah masjid-masjid, dan tempat yang paling buruk adalah pasar-pasar.

Abu Bakar radhiyallahu 'anhu juga telah mem-berikan contoh kepada kita dalam meneladani Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Dia mengatakan, "Langit yang manakah tempat aku bernaung, bumi manakah tempat aku berpijak jika aku mengatakan tentang Kitabullah dengan tanpa ilmu?"

Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu juga mengatakan, "Sesungguhnya termasuk bagian dari ilmu jika engkau mengatakan tentang sesuatu yang tidak engkau ketahui, 'Allahu a'lam (Allah yang lebih tahu)."

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu pernah mengatakan sebagaimana diriwayat-kan oleh Asy-Sya'bi, bahwa beliau keluar menemui para tabi'in lalu berkata, "Sungguh membuat hati menjadi sejuk." Lalu ditanyakan, "Apakah itu?" Beliau berkata, "Engkau mengatakan, "Allahu a'lam" terhadap sesuatu yang tidak engkau ketahui."

Nafi' mantan budak Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu meriwayatkan dari beliau, dia mengatakan, "Bahwa Ibnu Umar apabila ditanya tentang sesuatu yang tidak dia ketahui dia menjawab, "Tidak tahu, aku tidak memiliki pengetahuan tentang itu." Dan tentunya masih banyak ucapan-ucapan yang semakna dengan ini dari para shahabat, para imam dan ulama kaum muslimin.

Seorang penyair berkata,
Jika kau tak tahu tentang sesuatu yang ditanyakan padamu Sementara tentangnya engkau tidak punya ilmu Maka jangan katakan dengan tanpa kepahamanmu Sesungguhnya kesalahan adalah cela bagi ahli ilmu Jika engkau tidak tahu akan suatu perkara Maka katakan aku tidak tahu jawabannya Inilah bagian dari ilmu di sisi para ulama Demikian selalu dikatakan oleh para hukama.

Dari pembahasan di atas dapat diambil beberapa kesimpulan, iaitu:
a.. Ucapan dengan tanpa ilmu adalah perbuatan yang tercela, baik menurut Kitabullah maupun sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

b.. Orang yang berbicara dengan tanpa ilmu maka dia merusak bukan membawa kebaikan.

c.. Ketidaktahuan tentang sesuatu bukan merupakan aib dan kekurangan bagi seorang guru (pengajar).

d.. Rasa malu atau keengganan mengucapkan, "saya tidak tahu" jangan sampai menyebabkan seorang pengajar memberikan informasi yang salah kepada para pelajar.

e.. Setiap pengajar wajib menanamkan pondasi sikap ini kepada seluruh siswa dan menekankan hal tersebut.

f.. Ucapan "saya tidak tahu" adalah bagian dari ilmu bahkan Abu Darda' radhiyallahu 'anhu mengatakan bahwa ia adalah separuh dari ilmu."

Sumber: "Al Mu'allim al Awwal, Fuad bin Abdul Aziz Al Syalhub (Kholif Abu Ahmad)
Baca Selanjutnya...

Thursday, February 11, 2010

Memahami Fitnah (Cabaran) Dalam Dakwah & Jamaah - DI MANA KITA?

Salam sahabat-sahabat,

Hari ini(khamis) selepas solat Subuh di surau Pondok Pemuda al-Khalthumiah Batu Tiga Kuantan, saya tidur puas-puas jam 10 pagi baru bangun. Lantas saya terfikir apa nak dimuatkan dalam blog saya setelah dua hari tidak diupdatekan. Buka kitab sana tak jadi, buka kitab sini tak jadi. alhamduliLLah bila buka blog sendiri maka terpandang beberapa blog sisipan di blog saya antaranya blog tantawi, syeikh yusainnei dan hazmi dibok.

Maka saya sangat tertarik dengan posting dalam blog ustaz Mohd Hazmi Dibok yang bertajuk Memahami Fitnah (Cabaran) Dalam Dakwah & Jamaah.

Saya kira kita kena baca dan wajib baca supaya kita tidak termasuk di kalangan pembawa dan pembuat kerosakan dalam parti dan jamaah Islam.

1. Golongan yang berbisik-bisik di belakang atau tidak melalui saluran jika tidak berpuas hati dan menimbulkan puak-puak dalam jamaah.

"As-Syahid Sayyid Qutb ketika menafsirkan ayat yang membicarakan tentang berbisikan (Surah An-Nisak ayat 114-pen) berkata : Nampaknya sebahagian kaum muslimin - yang terdiri drpd mereka yang belum sensitif dengan deria tanzim Islami (gerakan Islam)- ketika berlaku sesuatu perkara, mereka berkumpul sesama sendiri untuk bersembang-sembang dan berbisikan serta bermesyuarat jauh dari pantauan qiadah (pimpinan) mereka.

Kaedah ini tidak diperakui oleh tabiat perjalanan Jamaah Islam dan ruh tanzim Islami yang menuntut agar segala pandangan, pendapat dan cadangan (atau kritikan) yang timbul hendaklah dibentangkan kepada qiadah secara lansung (face to face). Perkumpulan-perkumpulan pinggiran (klik atau team) dalam jamaah adalah tidak dibenarkan.

Adalah diperhatikan bahawa perkumpulan-perkumpulan yang wujud di dalam jamaah akan menyebabkan keadaan kucar-kacir dan menyusahkan jamaah, sekali pun orang yang melakukannya tidak berniat demikian (mungkin niat kerana sayangkan jemaah). Tetapi, cara pengutaraan permasalahan semasa yang dihadapi atau pembentangan pendapat dan cadangan (atau kritikan) dengan cara demikian (tidak melalui saluran) sudah cukup untuk membawa kepada kesulitan dan ketidak patuhan." [Fi Zilal Al-Quran, 6/351]


2. Penimbul fitnah (perpecahan) dalam jamaah seringkali menggunakan alasan yang indah untuk menjustifikasi tindakan

Sikap menjustifikasikan tindakan sumbang dengan alasan yang indah (cth : kerana sayangkan jamaah) ini adalah merupakan syiar golongan kafir yang menjangkiti penimbul fitnah dalam jamaah Islam.

"Kemudian ada pemimpin yang dituduh tidak memahami permainan politik. Qiaskan apa yang berlaku sekarang dengan apa yang telah berlaku dahulu. Al-Quran telah memberi amaran kepada kita daripada terlibat dengan tuduhan-tuduhan tersebut kerana ia merupakan syiar golongan kafir. Firaun (dan menteri-menterinya) telah berkata tentang Nabi Musa a.s ;

{dan Firaun berkata ; Biarkan aku membunuh Musa dan biarlah dia memohon kepada Tuhannya kerana aku bimbang dia akan menukar agama kamu atau dia akan menimbulkan kerosakan di muka bumi} - Surah Al-Ghafir ayat 26

{Dan berkata pula ketua-ketua dari kaum Firaun ; Adakah kamu (wahai Firaun) hendak membiarkan Musa dan kaumnya untuk melakukan kerosakan di bumi (Mesir)} - Surah Al-A'raf ayat 127

Bukankah inilah perkataan yang turut digunakan oleh setiap thagut yang melakukan kerosakan di atas muka bumi dan mendakwa yang yang mereka melakukan pembaikan?

Bukankah ia merupakan perkataan batil yang hodoh dan digunakan bagi berhadapan dengan kebenaran yang indah?

Bukankah ia juga perkataan yang digunakan oleh si penjahat bagi membangkitkan keraguan dan syak wasangka di sisi seorang yang beriman lagi tenang?

Logik yang digunakan adalah sama. Ia berulang ketika bertembung di antara kebenaran dan kebatilan, iman dan kufur, kebaikan dan keburukan di sepanjang zaman dan setiap tempat. Kisah ini sentiasa berulang dari masa ke semasa" [Fi Zilal Al-Qur'an, 5/3078]

Oleh itu para daie hendaklah sentiasa berwaspada daripada menyerupai golongan kafir, iaitu dengan mengadakan alasan ;

- bahawa fitnah yang digembar-gemburkan bertujuan untuk membaiki,
- bahawa mereka keluar dari jamaah demi melakukan pembetulan,
- bahawa bisikan yang dilakukan di kalangan mereka bertujuan untuk berbincang (wacana),
- bahawa umpatan yang dilakukan bertujuan untuk mewujudkan suasana dialog,
- bahawa percanggahan dengan pemimpin atas alasan kebenaran bukannya satu,
- bahawa ketidak tegasan (dengan Islam-pen) dengan hujjah untuk mendapatkan sokongan,
- bahawa tidak taat kepada dakwah atas alasan mempermudahkan (dinamik)
- bahawa mengkritik golongan yang membawa kebaikan dengan alasan (kebaikan) itu subjektif,
- bahawa meninggalkan dasar-dasar syarak dengan hujjah maslahah,........

Tetapi, kerosakan adalah tetap kerosakan, tidak boleh diubah oleh ibarat dan lafaz yang digunakan untuk menggambarkannya. Tetap teguh di atas manhaj adalah lebih utama daripada mendapat sokongan yang cepat. Kesatuan jamaah adalah daripada lebih utama mendapat sokongan di dalam satu-satu situasi. Kemaslahatan umum mengatasi kepentingan individu.

* Petikan dari buku Fitnah Dalam Kehidupan Pendakwah - Muhammad Ahmad Ar-Rashid m.s. 33
* Petikan dari buku Fitnah Dalam Kehidupan Pendakwah - Muhammad Ahmad Ar-Rashid m.s. 55-57

Baca Selanjutnya...